SisingamangarajaXII Pahlawan, Tokoh. PISO GAJA DOMPAK itu ada sejak Si Singamangaraja I yaitu sekitar pertengahan abad XVI masehi. PISO GAJA DOMPAK adalah lambang kerajaan Si Singamangaraja. Keris itu bukanlah sembarang keris. Keris panjang ini adalah salah satu terpenting di kerajaan Si Singamangaraja yang di mulai dan berpusat di Bakara
Belumada catatan mengenai sejarah kapan tepatnya senjata tradisional ini menjadi pusaka dari Kerajaan Batak. Namun menurut penelusuran sejarah yang dilakukan, Piso Raja Dompak memang sangat berkaitan dengan masa kepemimpinan Raja Sisingamangaraja I. Hal ini sudah berdasar pada kepercayaan masyarakat mengenai mitos-mitos yang beredar serta tradisi lisan yang tercatat di dalam aksara.
Thename piso gaja dompak taken from the word which means the blade piso functioned for cutting or piercing, and the shape of the pointed and sharp. Called gaja dompak, look like elephant carving as it means on the gun handle. Piso Gaja Dompak, Batak typical weapon is the inheritance of the Kingdom of B atak. The existence of these weapons
Duapedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII. [5] [6] Menurut seorang Guru Besar sejarah dari Universitas Padjajaran Bandung , Mansyur Suryanegara semua pejuang Muslim di Nusantara menggunakan panji-panji merah dan putih dalam melakukan perlawanan, karena berdasarkan hadits Nabi Muhammad .
Duapedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII. [1] Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang - pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.
Diusungma dohot angka pusaha hasontion di harajaon ni Sisingamangaraja tu inganan lobuan nagodang tu antaran nabidang i. Diboan ma piso gaja dompak, ima piso naniumpat marsillam-sillam pinasarung marungut-ungut, dohot hujur sane hujur siringis, ima hujur sitonggo mual i.
.
PARBOABOA – Sisingamangaraja XII memiliki nama asli Patuan Bosar Ompu Pulo Batu Sinambela. Lahir pada tanggal 18 Februari 1845 di Bakkara, Sumatera Utara. Sisingamangaraja XII merupakan seorang raja di Negeri Toba dan menjadi salah satu tokoh yang membantu melakukan perlawanan terhadap penjajahan Bangsa Belanda sejak tahun 1878. Gelar Sisingamangaraja XII diperoleh berdasarkan silsilah keluarga Marga Sinambela yang memiliki arti “Raja Singa Agung”. Beliau naik tahta menggantikan ayahnya yang meninggal dunia pada tahun 1876 yakni Sisingamangaraja XI yang bernama Ompu Raja Sohahuaon Sinambela. Bentuk-bentuk Perlawanan Sisingamangaraja XII Alasan Sisingamangaraja XII melakukan perlawanan karena ia menentang adanya upaya Kristenisasi yang dilakukan Belanda dan juga upaya untuk menguasai seluruh daerah tanah Batak. Awal mula perlawanan Sisingamangaraja XII dilakukan pada Februari 1878 dimana pasukan Belanda sampai di Pearaja tempat kediaman penginjil Ingwer Ludwig Nommensen. Bersama penginjil tersebut dan seorang penerjemah bernama Simoneit, pasukan Belanda menuju Bahal Batu untuk membangun benteng pertahanan. Kehadiran tentara kolonial ini tentu saja memprovokasi Sisingamangaraja XII. Beliau bertekad untuk mempertahankan daerah kekuasaanya di Tapanuli dari invasi Belanda. Beliau juga ingin agar masyarakat tetap berada dalam kehidupan tradisional, bebas dari segala pengaruh dan intervensi dari negara-negara lain, serta menolak penyebaran agama Kristen di Tanah Batak. Pada 16 Februari 1878, Sisingamangaraja XII mengumumkan perang yang ditandai dengan penyerangan ke pos Belanda di Bahal Batu tersebut. Sebagai respon atas serangan itu, Kolonial Belanda dibawah pimpinan Kolonel Engels dari Sibolga datang membawa penambahan pasukan sebanyak 250 tentara untuk menyerang Bakkara yang diketahui merupakan markas dari Sisingamangaraja XII. Dalam penyerangan itu, pasukan Kolonial Belanda tersebut berhasil menaklukkan Bakkara. Beruntung Sisingamangaraja XII beserta pengikutnya berhasil menyelamatkan diri dan keluar mengungsi untuk sementara waktu. Para raja yang tertinggal di Bakkara dipaksa Belanda untuk bersumpah setia dan kawasan tersebut dinyatakan berada dalam kedaulatan pemerintah Hindia Belanda. Walaupun dalam pengungsian, Sisingamangaraja XII tidak diam begitu saja. Dia tetap melakukan perlawanan secara Gerilya untuk beberapa kawasan seperti Butarbutar, Huta Ginjang, Lobu Siregar, Naga Saribu, Gurgur. Tetapi perlawanannya tersebut gagal. Pada tahun 1883-1884, Ia dan para pengikutnya kembali berkumpul dan menyusun rencana untuk meluncurkan serangan yang dibantu oleh Kerajaan Aceh. Mereka menyerang Belanda di Uluan dan Balige pada Mei 1883 dan Tangga Batu pada 1884. Melihat perlawanan yang dilakukan Sisingamangaraja XII, membuat Belanda tidak tinggal diam. Di tahun 1907, Belanda kembali memperkuat pasukannya dengan persenjataan lengkap. Dengan pasukan yang diberi nama Korps Marsose, Belanda melakukan penyerangan di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi. Dalam Penyerangan ini, Korps Marsose berhasil membuat Sisingamangaraja XII kewalahan dan terkepung. Sisingamangaraja XII akhirnya gugur dalam pertempuran ini sambil memegang senjata Piso Gaja Dompak. Kopral Souhoka, sebagai penembak jitu pasukan tersebut berhasil mendaratkan tembakan ke kepala Sisingamangaraja XII tepat dibawah telinganya. Darah yang menempel di tubuhnya ternyata menjadi titik lemah Sisingamangaraja XII. Dia pun berhasil dilumpuhkan dengan peluru tajam yang sebelumnya dilumuri darah babi. Menjelang napas terakhir, dia tetap berucap “Ahu Sisingamangaraja”. Dalam pertempuran tersebut kedua putranya yang bernama Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta putrinya yang bernama Putri Lopian ikut gugur. Sementara keluarganya yang lain ditawan di Tarutung. Sebelum Sisingamangaraja XII dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung, mayatnya diarak dan dipertontonkan kepada masyarakat Toba. Penghargaan Dari Pemerintah Republik Indonesia Untuk Sisingamangaraja XII Sejak 14 Juni 1953, makamnya dipindahkan ke Makam Pahlawan Nasional di Soposurung, Balige, yang dibangun oleh Pemerintah, masyarakat dan keluarga. Sisingamangaraja XII pun digelari Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan Surat Keputusan Pemerintah Republik Indonesia No. 590 pertanggal 9 Nopember 1961. Kesaktian Sisingamangaraja XII Sisingamangaraja XII merupakan tokoh terakhir yang menjadi pemimpin parmalim kepercayaan zaman dahulu. Dia dianggap Raja Dewa dan titisan Batara Guru, karena Sisingamangaraja diyakini memiliki kesaktian yang mampu mengusir roh jahat, mengeluarkan hujan, dan mengendalikan proses penanaman padi. Pada saat perang berlangsung di Tangga Batu, Sisingamangaraja XII juga beberapa kali menunjukkan kesaktiannya, yaitu Sewaktu rombongan Sisingamangaraja XII melalui Tangga Batu ingin minum, namun mata air ataupun bendar tidak tampak sama sekali, sementara teriknya matahari tidak tertahan lagi. Di dekat kaki Dolok Tolong, Sisingamangaraja mengambil tongkatnya dan dengan tongkatnya tersebut mata air dikorek dari tanah, sehingga rombongan dapat minum. Sampai saat ini, mata air tersebut masih digunakan sebagai air minum di kampung Pallanggean. Pada saat rombongan telah sampai di Tangga Batu dan akan merundingkan sesuatu dengan rakyat, terjadi kekurangan bahan pangan. Daging yang akan dijadikan makanan rakyat yang berkumpul tidak ada. Sementara tempat pengembalaan ternak kerbau dan lembu jauh dari lokasi mereka saat ini. Tiba-tiba kerbau milik seorang bernama Pagonda Tampubolon dapat dipanggil datang ke kampung dan disembelih. Bila Sisingamangaraja XII melintasi suatu daerah, segala orang tahanan harus dibebaskan. Karena Sisingamangaraja XII pernah berujar kepada Humbil yang pernah menahan warga, “Bila saya datang Raja SisingamangrajaXII, sepantasnya rakyatku harus dilepaskan”. Akan tetapi Humbil mengabaikannya, sehingga sewaktu rombongan Sisingamangaraja XII hendak meninggalkan kampung tersebut, maka dengan sekonyong-konyongnya terjadilah angin topan yang sangat hebatnya dikampung itu dan disusul pula dengan ular-ular yang bermacam-macam datang mengerumuni kampung tersebut. Selain memiliki kesaktian yang berhubungan dengan alam, Ia juga diyakini memiliki kesaktian kebal terhadap peluru. Walau pada akhirnya dia gugur karna sebuah tembakan yang mengenai kepalanya. Peninggalan Dari Perjuangan Sisingamangaraja Pasukan Belanda menemukan sebilah pedang yang diduga digunakan oleh Sisingamangaraja XII pada saat berperang, yaitu Piso Gaja Dompak. Saat ini, pedang tersebut telah menjadi koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen, Belanda.
Erro 404 - Página não encontrada ou foi abduzida! Você pode ter digitado o endereço URL incorretamente. Cheque novamente, para ter certeza de que você usou a ortografia correta, assim como as maiúsculas e minúsculas. Voltar à página inicial
– Senjata merupakan salah satu peralatan yang telah ada sejak manusia ada. Fungsi senjata digunakan untuk berburu hingga mempertahankan diri. Senjata pun beragam jenisnya, termasuk milik Suku Batak dari Provinsi Sumatera Utara. Kali ini, redaksi mengulas salah satu senjata tradisional yang dimiliki suku Batak. Dua filosofis dari makna Piso Gaja Dompak’ yang artinya? Nama piso gaja dompak terdiri dari kata piso artinya pisau, berfungsi untuk memotong, menusuk. Berbentuk runcing dan juga tajam. Dan Gaja Dompak karena berbentuk ukiran berpenampang gajah di tangkai pusaka kerajaan Batak. Piso Gaja Dompak, senjata tradisional Suku Batak yang diyakini sudah ada sejak zaman Kerajaan Batak, dan menjadi salah satu pusaka. Keberadaan pusaka ini gak bisa dipisahkan dari perannya dalam perkembangan kerajaan Batak. Walaupun berfungsi sebagai senjata, Piso Gaja Dompak gak boleh dimiliki sembarang orang. Hanya keturunan raja-raja saja yang boleh memiliki. Senjata ini adalah pusaka yang dikultuskan. Gak bisa dimiliki oleh orang di luar kerajaan. Masyarakat cuma dibolehkan menggunakan senjata lain seperti Piso Karo, Piso Senelenggam, Piso Gading, dan sebagainya. Meskipun belum ditemukan pasti kapan tepatnya senjata ini pertama kali dibuat, tapi senjata yang berbentuk pisau, berhubungan erat dengan kepemimpinan Raja Sisingamangaraja I. Dalam mitosnya diyakini Sisingamangaraja I, dikultuskan sebagai titisan Batara Guru. Saat itu, Manghuntal dewasa mampu mengeluarkan Piso Gaja Dompak dari sarungnya, sehingga Manghutal pun didaulat sebagai raja. Kisah dalam mitos itu begini kisahnya. Berkisah tentang seorang bernama Bona Ni Onan, putra bungsu dari Raja Sinambela. Dalam cerita ini dikisahkan selepas dari melakukan perjalanan jauh. Bona Ni Onan terkejut, istrinya Boru Borbor hamil besar. Tak kuasa dengan rasa yang berkecamuk di dalam dada, ia meragukan kandungan sang istri. Hingga suata malam, dalam mimpinya didatangi roh yang mengatakan anak dalam kandungan merupakan titisan dari Roh Batara Guru. Kelak besar nanti, dalam mimpi diceritakan akan menjadi raja, bergelar Sisingamangaraja. Berceritalah Bona Ni Onan kepada sang istri, bahwa semalam bermimpi dan Bona lupa akan marahnya. Sikapnya sebagai suami butuh memastikan. Ada apa dengan mimpinya malam tadi. Saat bercerita, lain lagi jawab sang istri. Malah turut menambahkan keseruan kisah ini. Istrinya pun juga bercerita sewaktu dia mandi di Tombak Sulu-sulu hutan rimba, terdengar gemuruh suara menakutkan. Tiba-tiba, cahaya merasuki tubuh dan menggetarkan sekujur badan. Sekejap diceritakan, tiba-tiba bentuk tubuh berubah. Dirinya terlihat mirip perempuan hamil. Saat itu, sang istri percaya dirinya bertemu roh Batara Guru. Berjalan dengan waktu dalam mitos ini menambahkan, masa kehamilan dilewati hingga 19 bulan lamanya. Saat kelahiran, terjadi lagi peristiwa yang ajaib dan penuh keanehan. Tiba-tiba saja terjadi badai topan dan gempa. Bumi bergoncang kuat-kuat. Anaknya pun lahir selamat. Dia laki-laki. Putranya diberi nama Manghuntal, arti nama Manghuntal lahir karena keadaan gemuruh dan gempa-gempa. Cerita berikutnya, Manghuntal dewasa. Dalam masa pertumbuhan dan kematangan Manghuntal makin melihatkan kelebihan. Kedua orangtua makin mantap. Keyakinan mereka bertambah-tambah. Memperkuat ramalan, kelak Manghuntal adalah raja di masa mendatang. Manghuntal pun pergi bertemu Raja Uti, Raja yang Mahasakti. Manghuntal memberanikan diri berkat dorongan kedua orangtua agar mendapatkan pencerahan mirip nasihat-nasihat gitulah. Pergilah, dan sampai juga ia di kerajaan. Dalam masa menunggu, disambut istri raja. Manghuntal disuguhkan makanan enak. Di atas meja, terhidang makanan enak-enak. Semua tersaji. Istri raja bertanya, dan Manghuntal jawab dengan santun. Manghuntal terhentak. Percakapan terputus. Rupanya saat Manghuntal menikmati hidangan, raja sedang memperhatikan. Dan mata orang biasa gak akan bisa melihat wujud asli sang raja. Suara raja bergema dan menyapa Manghuntal. Berceritalah maksud kedatangan Manghuntal menemui raja. Peristiwa yang dialami orang tua, ia sampaikan. Selain itu, Manghuntal juga punya keinginan. Menurut mitosnya lagi, sang raja bisa mengabulkan semua permohonan. Ia memberanikan diri meminta gajah putih. Raja U’ti pun mengabulkan tapi dengan sejumlah persyaratan. Manghuntal diberikan perintah untuk membawa sesuatu yang ada di wilayah Toba, Manghuntal pun mengamini. Ia nurut dan berhasil kembali membawa sejumlah yang diminta raja U’ti. Setelah itu, Manghuntal kembali menemui Raja Uti. Semua persyaratan berhasil ia selesaikan. Sang Raja terkagum, dan permohonan dikabulkan. Ia sungguh gembira. Rasa bahagianya jadi makin-makin. Gak cuma seekor gajah putih tapi juga dua pusaka kerajaan diberikan, Piso Gajah Dompak dan tombak. Raja U’ti menamakan pusaka ini, Hujur Siringis. Konon, Piso Gaja Dompak tidak bisa dilepaskan dari pembungkusnya kecuali oleh orang yang memiliki kesaktian. Manghuntal bisa membuka. Pasca itu, Manghuntal benar-benar jadi raja dengan nama Sisingamangaraja I, hingga saat ini masyarakat Batak masih mempercayai. Kepercayaan ini bukan tanpa sebab, karena sumber mitos berasal dari tradisi lisan yang tercatat dalam aksara. Piso Gaja Dompak berbentuk panjang, runcing, pipih, dan tajam, tapi pisau ini tidak digunakan untuk melukai ataupun membunuh orang. Piso Gaja Dompak hanyalah pusaka dan perantara magis. Dalam pusaka terkandung kekuatan supranatural yang bisa digunakan untuk mengembangkan Kerajaan Batak. Kekuatan magis menyatu bersama pusaka. Dan bagi yang memakai mendapatkan kharisma dan kebijaksanaan. Pisau berukuran lebih panjang dari belati, dan lebih pendek dari pedang. Ukiran berbentuk gajah yang ada di gagang diduga berkaitan erat dengan mitos tentang Manghutal tadi, selain mendapatkan Piso Gaja Dompak, Manghutal juga diberikan kadigdayan berbentuk seekor gajah putih. Piso Gaja Dompak memiliki gagang dan sarung. Warna hitam dengan garis kuningan. Dan di pangkal tangkai ada ujung sarung. Bentuknya runcing dalam Bahasa Batak disebut Rantos, Makna yang terkandung adalah seorang raja harus memiliki kecerdasan dan ketajaman dalam menganalisa. Intuisi dan kecerdasan intelektual dalam selesaikan semua masalah, dan peluang. Termasuk soal leadership dalam mengambil keputusan. Sobat Pariwisata Indonesia, yuk kita syukuri dan patut berbangga karena Pusaka dari suku Batak, Piso Gajah Dompak’ milik Raja Sisingamaraja XII telah diserahkan kepada Republik Indonesia, dan disimpan di Museum Nasional di Jakarta dengan Nomor Registrasi 13425. Sebelumnya berada di Museum Belanda di Den Haag. Nita/Kusmanto
Foto Prof. Dr. Laurence Adolf Manullang, SE., SP., MM dalam acara Horja Bolon DMAB-LABB, di Jakarta. …lanjutan Bagian II Media Bagaimana pasukan Belanda memastikan bahwa yang tertembak itu adalah Raja Sisingamaraja, mengingat sebelumnya dikisahkan bisa menghilang? Foto Piso Gaja Dompak milik Raja Sisingamangaraja XII Prof Dr. Laurence M Belanda mendatangkan sahabat Raja Sisingamaraja yang merangkap informan beliau di Balige, yaitu ompung Manullang, ayah dari Tuan Manullang. Ompung ini mengidentifikasikan mayat itu melalui dua ciri khas yaitu Melihat bekas luka beliau di bahu pada waktu perang Pulas di Balige; dan kedua adalah, setelah dibuka mulutnya dan memang lidahnya berbulu. Maka jelaslah bahwa yang gugur itu adalah Raja Sisingamaraja XII. Media Ngomong-ngomong, kenapa Raja dan Ratu Belanda datang ke Tanah Batak, tapi tidak mampir ke Bakkara sebagai tanah leluhur dan tempat makam Raja Sisingamangaraja XII ya pak Prof? Prof. Dr. Laurence M Ya memang mungkin tidak ada yang menjadwalkan Raja dan Ratu Belanda kunjungi Bakkara secara khusus. Tentu itu dapat dipahami. Karena bisa saja mengingatkan luka lama. Apalagi kalau benar peristiwa genosida pembakaran seluruh asset bangunan kerajaan SSM XII dan perampasan benda-benda pusaka warisan turun-temurun mulai dari SSM I sampai XII, ketika perang Batak. Maka itu hanya bisa diampuni dengan mengadakan Horja Bolon Pesta derderajat tinggi antara Pemimpin Batak dengan Raja Belanda. Horja Bolon itu sebagai sendi dan seni Perdamaian Dunia yang merupakan prinsip Perdamaian Universal yang ditegakkan oleh UN United Nation, dimana semua anggota UN wajib melakukan itu. Diplomat Dewan Mangaraja Adat Batak LABB Lokus Adat Budaya Batak yang ahli dibidang itu, nampaknya perlu melakukan upaya diplomasi kreatif dan terukur. Media Bagaimana tadi kelanjutan cerita penyerangan serdadu Belanda terhadap Raja Sisingamangaraja. Apa yang Prof ketahui lagi? Prof. Dr. Laurence M Dua hari setelah Sisingamangaraja XII gugur, yaitu tanggal 19 Juni 1907, terjadi reaksi terhadap Belanda di Simanullang Toruan, di Sihotang, dan daerah Samosir bergolak. Namun semua yang mengadakan perlawanan ditangkap. Ompu Tuan Nabijak Manullang kemudian didenda 3000 guilders. Sihotang didenda 1000 guilders. Ompu Marhehe Malau bersama 10 anak buahnya gugur. Kemudian terjadi pemberontakan Si Hudamdam. Namun pemimpinnya berhasil ditangkap, seperti Laham Manullang dan Biding Simatupang, yang kemudian diketahui dibuang ke Digul. Sedangkan Ompung Tanggurung Munte, dibuang ke Ombilin, Sawahlunto. Ompung Ganjang Manullang dibuang ke Gunung Sitoli. Garam Manullang dibuang ke Nusakambangan. Peter Manullang dibuang Tanah Grogot, Kalimantan. Mereka masing-masing dihukum 8 delapan tahun. Belanda memang marah, sebab dalam pemberontakan si Hudamdam ini, kanselir WCM Muller Siborong-borong tewas. Demang dan Asisten Demang Siborong-borong juga luka-luka. Namun sebelum Sisingamangaraja XII gugur tahun 1907, Guru Somalaing Pardede, seorang datu, Panglima Sisingamangaraja XII, dan Pemimpin aliran Parmalim, dibuang pasukan Belanda ke Kalimantan, dan meninggal disana pada tahun 1896. Foto Lukisan Raja Sisingamangaraja XII Media Wah, 3000 gulden? Kira-kira senilai berapa itu sekarang? Dan banyak yang dibuang Belanda kemana-mana ya?. Prof. Dr. Laurence M Ya. Ternyata pahlawan Kemerdekaan itu sangat banyak dari Tanah Batak, yang gugur dan ditangkap Belanda. Itu saja yang berada di lingkungan kerajaan. Belum lagi pejuang-pejuang Batak lainnya. Bahkan sampai di denda gulden. Itu bisa membeli mobil Hammer anti peluru, kalau di investasikan sejak perang Batak sampai sekarang. Makanya di tanah Batak itu terukir sejarah monumental yang tidak bisa dilupakan. Bahkan pada waktu saya mampir di Belanda tahun 1976 itu tadi, saya suruh orang Belanda itu angkat koper saya dari lobby ke kamar hotel. Karena saya melihat udah agak tua, saya pikir pasti tentara pensiunan yang pernah bertugas di Indonesia. Tapi kasihan juga dan nggak tega. Saya kasih juga tip. Hmm… Media Raja Sisingamangaraja diketahui juga ahli strategi. Bagaimana dulu kira-kira strategi perangnya, dalam menghadapi Belanda ya? Prof. Dr. Laurence M Sisingamangaraja-lah yang mengumumkan perang Pulas tahun 1878, dan perang pertama diadakan di Toba Balige. Alpiso, putra Ompu Bontar Siahaan, Panglima Sisingamangaraja memobilisasi bala tentaranya dari Tangga Batu, bergabung dengan pasukan Sisingamangaraja yang lain di Balige, untuk menghadapi Belanda. Kemudian Raja Partahan Bosi dari Si Raja Deang Hutapea, Panglima SSM XII di Laguboti yang terkenal dengan hoda Bonggalanya, ikut perang pula. Pasukan Raja Sijorat Panjaitan yang mempunyai ilmu sangat tinggi juga bergabung dengan rakyat, dan tidak tinggal diam. Semua angkat senjata menghadapi Belanda, hingga kemudian Belanda kewalahan. Dari info inteligent, para Panglima SSM XII dapat info, bahwa bala bantuan tentara Belanda lengkap dengan meriam didatangkan dari Tarutung, Tapanuli. Maka para Panglimanya menyarankan agar SSM XII menyingkir ke Bakkara dan menantikan Belanda untuk pertempuran dahsyat di Bakkara. Disitulah ditemukan kekompakan orang Batak dalam menggelar perang rakyat semesta. Foto Makam Raja Sisingamangaraja XII di Bakkara Kemudian, menjelang tanggal 29 April 1878, Si Raja Deang Hutapea siap dengan tentaranya. Raja Sijorat Panjaitan dari Sitorang siap bersama para pejuang tangguh. Dari Pangaribuan dan pasukan Panglima Alpiso Siahaan dari Tangga Batu, dan pasukan setia lannya SSM XII sendiri siap untuk perang Pulas tanggal 29 April 1878 di Balige. Dan dibantu oleh pasukan perang dari uluan dan Porsea Media Mengenai kesaktian Piso Gaja Dompak itu, pangkal pisaunya satu tapi katanya ujung depannya bercabang dua, sehingga tidak bisa dicabut oleh siapapun selain SSM I sampai XII. Benarkah? Prof. Dr. Laurence M Ya, kalau menurut legenda, tatkala Piso Gaja Dompak itu bisa dicabut, maka piso itu marmehet-mehet berdesir-desir seperti suara kambing. Yang jelas, pisau itu hanya ada di kalangan keturunan raja. Ceritanya, ketika SSM XII berumur 6 tahun, dia memanjat pohon dan menggantungkan kakinya di cabang pohon, tapi kepalanya kebawah. Apa yang terjadi? Seketika itu juga, semua padi di Bakkara posisinya menjadi terbalik, dimana akar padi itu keatas dan ujung daun padi menukik kebawah. Lalu masyarakat setempat menyampaikan itu kepada SSM XI. Maka SSM XI pun sadar bahwa calon penggantinya telah lahir. Itu fakta bahwa Piso Gaja Dompak adalah tanda keselamatan Batak dari Mulajadi Nabolon, yang diserahkan kepada Raja Uti, dan selanjutnya dihadiahkan kepada SSM I sampai XII. Sebab Raja Uti itu lahir tidak mempunyai kaki dan tangan. Wajahnya juga berbeda dengan manusia biasa. Tubuh Raja Uti penuh dengan Rambut yang tidak bisa digunting dengan apapun. bersambung ke Bagian III Raja dan Ratu Belanda Datang, Jadi Ingat Piso Gaja Dompak Raja Sisingamaraja Sudah Kembali Bagian III Editor Danny PH Siagian, SE., MM Baca Juga Pengunjung 9,051 Continue Reading
piso gaja dompak sisingamangaraja